Kamu Terlalu Diam (KTD)

Sekian waktu yang lalu, video berdurasi lama tentang talk show seorang penulis baru dan beberapa sahabat dekatnya, tak sedikit yang tahu penulis ini. Aku yakin, jika kamu manusia penggelut buku dan film Tanah Air, pasti penulis ini termasuk dalam deretan ingatan barang sejenak. Bukan sosok penulis dan 3 sahabat dalam video itu, tetapi buku yang ditulisnya atas pengalaman pribadi dan tiga sahabatnya. Kamu Terlalu Banyak Bercanda (KTTB), aku yakin kamu tahu.

Kali pertama membaca judul ini, sangat kontras dengan cover pribadi ini. Walau sebenarnya, banyak hal yang aku candakan sepanjang 22 tahun hidup.

Dalam video itu, mereka berceloteh panjang lebar asal mula buku itu ditulis. Mungkin, manusia bisa terbagi dua, pendengar dan pencerita. Dan mereka sekian adalah pendengar untuk selain mereka. Tetapi, pencerita untuk diri mereka sendiri. Miris mungkin, jika hati kita terketuk, karena tanpa kita sadari mungkin untaian kata dan ucapan kita tanpa kita sadari menyakiti hati yang sebenarnya hanya ingin kita curahkan saja isi luapan hati.

Jika mereka pencerita untuk diri sendiri, dari buku inilah mereka bercerita. Mereka pendengar sembari bercanda, menganggap hidup ini hanyalah canda, tanpa mereka sadari mereka terbuai candu karena hiburan dunia semata, mereka menganggap enteng apa yang di hadapan mereka, meski dalam hati bisa jadi mereka berteriak kencang.

Jika mereka bercerita dan mendengar dengan candaan mereka.

Aku mendengar dan bercerita dalam diam.

Kataku mungkin hanya sekian dari sekian kata dalam sehari. Sejauh perjalanan yang kutempuh, bibir ini bisa terkatup rapat. Bagiku, tak ada obrolan. Tak perlu banyak kata. Apalagi untuk mereka yang baru hadir dalam deretan hidup ini. Meski hal ini aku sesali perlahan, terlagi memasuki usia kepala dua.

Lingkaran pertemananku mengalami fase banyak hingga mulai menipis. Tidak sedikit kawan satu jurusan, partner, kelas, dsb, mungkin menggabungkan diri dengan teman satu visi dan misi. Aku meyakini itu. Bahkan aku termasuk menjadi salah satu pion penggabungan dan pemisahan lingkaran pertemanan. Dan aku masih terlalu banyak diam.

Bahkan, untuk kawan sebangku aku bisa terdiam seribu bahasa. Kamu bisa membayangkan aku spesies yang amat sangat tidak seru. Tak banyak bahan obrolan, apalagi bercanda. Aku sendiri tak mengerti. Pernah sesekali aku mencoba berbicara, bercanda, tapi semua berakhir dengan obrolan kering. Seakan bahasaku adalah bahasa planet. Apakah aku bukan penduduk bumi ini?

Sesal. Kesal. Marah. Mengapa sukar sekali berbicara?

Perlahan aku lelah karena marah dalam diam. Kata orang, aku lembut. Kata orang aku halus. Kata orang aku dingin kepala. Dan berbagai macam kata orang. Aku tak peduli. Aku berusaha memperbaiki diri, namun sekian tahun, bukan hari, minggu, atau bulan. Aku mencoba. Semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah, hingga bahkan status guru tertandang erat di benak.

Mengapa sukar sekali berbicara?

Biarlah. Aku lelah memikirkannya. Biarkan semua berjalan. Aku paham aku terlalu diam. Bahkan jika kamu mengenalku, bisa jadi tak satu kata pun teruntai dari bibirku. Karena aku memang diam. Entah apa yang akan kubicarakan. Lain hal jika kamu bercerita, aku mampu menjadi pendengar.

Meski sukar, jangan minta lisan ini untuk berkata, “Beginilah aku”

Sungguh nian hati tak suka dengan kalimat itu. Selemah apapun manusia. Jika ia baik, ia akan terus berusaha memperbaiki diri. Dan aku berjuang menjadi satu dari sekian ribu manusia di bumi. Maaf selalu aku ucap kepada siapapun manusia yang kutemui, hingga anak didikku sekalipun. Tak memaksa mereka memintaku sehebat pahlawan dalam hidup mereka. Aku hanya berjuang dan berusaha menjadi yang terbaik.

Bagaimanapun kata-mu, kalian, hingga siapapun itu, selamanya tak akan pernah aku halau, tapi tak sekalipun kubiarkan masuk dalam tameng perbaikan diri. Lagaknya diri tak goyah.

Aku Terlalu Diam. Memang. Dan aku selalu berusaha memperbaiki diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s