Cahaya

Apa yang dipinta dari sang malam?

Aku terdiam menatap layar laptop pagi tadi. Sebuah pesan masuk. Pesan dari pintaan sang malam. Sekian lama tak bersua suara. Hanya bertukar kabar kata. Aku terpaku, hingga mungkin tak ada materi kuliah terlandas di permukaan otakku. Pesan itu tak lama. Tak ada 15 menit, tapi menyisakkan buah fikir dalam satu hari, hingga sore menyapa.

“Selalu menyertaimu..”

Pesan singkat terakhir, yang kuakhiri dengan emot smile sebagai penyemangat. Meski aku tahu sang pengirim pesan tak akan luntur semangat. Itu hanya pesan bergambar untuk yang tengah sibuk menekan tuts perangkat.

Sehari yang lalu, dia datang. Dengan sepeda motor biru kebanggaannya, membawa buah tangan dari rumah. Tanpa kutahu. Darah mudahnya bergejolak, ia sangat suka mengembara. Bertemu dengan perempuan paling kuat terhebat kukenal. Tanpa kutahu. Berlanjut bersua dengan dua gadis polos yang sibuk menuntut ilmu. Bertukar cerita haru. Tanpa kutahu.

Aku temaram malam. Mereka pintaan sang malam. Mereka cahaya.

Tanpa kusadari, di tengah asyiknya kawan sejawat seksama mendengar perkuliahan. Sang malam menitikkan air mata. Tak terlihat memang, ia pintar mengendalikan masa. Andai jam 12 berdentang, seakan ia ingin berteriak lepas. Mungkin itulah malam seharusnya, waktu beradu. Waktu berpinta cahaya.

Sehat selalu, Cahaya…

Salam Sore,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s