Perang Hati

“Kak, memang ndak capek ya?”

Aku melirik, sembari menyuap telur balado, lauk malam itu. “Capek?”, tanyaku heran

“Ya, capek. Capek jadi senior. Dengan segala tuntutan begitu-begini-begitu, padahal rutinitasnya mungkin begitu-begitu saja, tapi itu rutin”, sahutnya terang memeluk bantal kepala kesayangannya.

“Haha, ini perlu jawaban serius atau ndak?”, tanyaku balik menyeruput minuman.

“Serius-lah, motivasi juga ni”, desaknya tersenyum ketir

Aku tersenyum, menegak habis air yang tinggal sedikit. Memainkan gelas plastik itu. Ruang ini terasa lenggang, hanya kami berdua. Eh, tidak bertiga. Aku, dia (junior yang paling cerewet sejagat raya), dan tentu Dia. Pertanyaan yang sudah seringkali terngiang di telinga ini. Dengan orang yang berbeda, namun, satu tujuan. Jika dia bilang itu motivasi, mungkin ada yang beranggapan itu nasehat. Maklum, ini tahun pertamanya menjadi sosok yang harus serba bisa, entah itu belajar atau mengajar. Seperti dulu, aku tersenyum. Jawaban apa yang tepat?

Aku menghela nafas panjang, tersenyum getir, bukan mengeluhkan jawaban atau menertawakan pertanyaan. Hanya teringat sosok kecil 4 tahun silam, betapa dilemanya ketetapan itu. Hahaha…

“Jika kamu bertanya kepada setiap orang, kuyakin tak ada jawaban yang memuaskan. Singkatnya, semakin hari, capek fisik itu biasa. Tapi, yang berat kian waktu adalah mengolah capek hati. Itu yang sukar. Mengolah hati untuk bisa menerima, mengatur, membantah, bahkan menyanyangi siapapun yang layak disayang…

Dia menyimak.

“Mengajar sedari pagi hingga siang, berlanjut belajar di kampus seberang, lantas berakhir dengan menerima hafalan, membimbing belajar malam hingga larut, belum terhitung urusan sektor masing-masing yang tak kian usai. Itu semua urusan raga. Tanda kutip, kala masih terbilang junior. Kita hanya diminta, disuruh, hanya itu, mengolah yang namanya capek fisik…

Dia mendengar

Aku menghela nafas panjang. Masih dengan gelas plastik itu.

“Tapi, lain hal semakin panjang usiamu. Kegiatan itu menjadi hal yang sudah biasa untuk raga dan fisikmu. Tetapi, lain hal untuk urusan hati. Menjadi yang lebih tua, bahkan dituakan. Pertanda tanggung jawab lebih besar. Singkatnya, menentukan suatu jalannya acara, keputusan yang sudah di ambang mata, ia lebih rumit…

Dia masih mendengarkan…

Aku tersenyum simpul. “Sudah, itu saja..”, jawabku pelan

Dia tenggelam dalam bantalnya. Entah apa yang difikirkannya usai itu. Aku meninggalkannya sibuk. Lantas, seakan berpengaruh. Aku ikut tersentak, terbawa arus lamunan malam itu. Andai kalimat tadi perlu kubenahi. Sejujurnya, banyak hal yang berlawan balik dengan diri ini. Begitu banyak hal yang layak, tidak, bahkan harus disyukuri.

Seperti malam yang lalu, menghabiskan malam berdiskusi, bercanda ringan hingga auto serius bak ada konferensi meja kotak. Menikmati diskusi anak-anak yang terkadang nge-gas atau slow super lembut. Di bawah cahaya lampu malam, berkawan riuh suara kawan kelompok sebelah, jika perlu waktu berhenti, aku ingin selalu menikmati.

Pada intinya, perang hati itu akan sembuh, sembuh dengan kesyukuran.

Selamat Pagi,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s