Karya Gadis Kecil itu

Apa yang lebih indah dibanding keindahan itu sendiri? Apa yang lebih menakjubkan ketimbang keajaiban itu sendiri. Kita berdiri tak pernah sendiri, ada dua kaki yang menopang. Kita berlari tak pernah sendiri, ada angin yang ikut mengiringi. Bahkan kita tersenyum tak pernah sendiri, ada guratan wajah yang selalu siap mewarnai bagaimana senyum itu. Hingga nanti, kita tak pernah sendiri. Banyak kebaikan yang tak sanggup kita urai satu demi satu. Ada sebuah kisah pendek mengurai kata yang terpilih untuk judul tulisan kali ini. Kisah yang tentu dialami satu-dua dari kita. Untaian kisah sekian tahun silam.

Gadis kecil itu terduduk di sudut ruang. Dengan buku bergambar kesukaannya, hadiah dari wali kelas lantaran mendapat nilai terbaik di pelajaran Matematika. Senang bukan kepalang ia, lantas segera membeli satu-dua buah pensil, mewarnai lembaran putih kosong itu. Sepulang sekolah, usai berbenah, sudut ruang antara dua lemari buku menjadi tempat favourite-nya. Tak sulit ia dicari kala sang ibu memintanya untuk makan, atau kawan tetangga mengajaknya bermain layaknya kehidupan anak-anak seusianya. Jika mau ia beranjak, jika tidak ia menolak, menunda esok hari.

Ia suka menggambar. Segala hal yang dilihatnya ia gambar, apapun itu. Bermodalkan pensil 2B dan juga gambar-gambar unik yang ia dapat di sekolah. Kadangkala ia gambar sekali lagi, meniru, menyerupai. Saking menyukai guratan pensil itu, bisa terbilang ia jarang sekali makan. Dan ia tidak mengeluh. Hanya saja, ia tak pernah sekalipun menunjukkan gambar itu kepada temannya, sanak saudaranya bahkan orangtuanya sekalipun. Cukup untuk dirinya.

Hingga suatu kali. Kedua tangannya begitu gatal. Lantas ia membawa buku gambar itu ke sekolah. Hal yang tak pernah ia lakukan barang sekali. Meski sedikit ragu, tapi apalah daya fikir anak kecil. Ia membawanya. Tanpa tahu, jika buku itu membuatnya tertunduk malu hingga sekian waktu ke depan.

Layaknya anak SD pada masanya. Ejekan, olokan, elu-eluan terngiang kala buku bergambar itu tersingkap, terlempar dari satu tangan ke tangan lain, terutama anak laki-laki. Gadis itu terpaku.

Ia tak menangis. Ia tak melawan. Ia hanya malu. Takut.

Dalam satu hari, seisi kelas mengetahui gadis pendiam itu suka menggambar. Tak banyak yang tahu, mungkin hanya satu-dua kawan sebelah. Itu pun hanya tahu, tak lebih bagaimana bentuk gambar buatan tangannya.

Dan mulai hari itu, ia menjadi lebih diam. Lebih diam ketimbang hari-hari sebelumnya. Ia tak melawan. Ia tak menjauh. Ia hanya diam. Menjawab seperlunya. Meski ia sadar, banyak kawan yang berubah melihat dirinya. Tapi, ia seperti ini karena tak ingin melukai salah satu kawan perempuannya. Yang selalu berjuang lebih keras tertimbang ia, tetapi tak sekalipun dielu-kan oleh sahabat-sahabatnya. Dan ia semakin diam. Hingga masa sekolah mulai usai. Dan mereka tak lagi bersua.

Semenjak itu, gadis itu tak lagi menggambar. Ia lebih suka menyelami kata. Mungkin itu lebih menarik. Tak lebih. Seluruh gambar ia simpan baik-baik. Bukan melupakan, hanya berganti suasana. Meski gadis itu belum paham apa berganti suasana. Maklum, anak kecil banyak maunya.

Kembali ia menggeluti dunia kata. Ia suka membaca. Berawal dari komik-komik animasi jepang, seperti Doraemon, Naruto, dsb. Tak jarang, gelak tawa, gurat heran, takut gelisah dari mimik gadis itu. Ia terlalu menjiwai. Sama halnya kala menggambar, ia lebih sering lupa waktu tertimbang lupa jajan. Dan waktu berputar. Dunia Sekolah Menengah ia rasakan. Bersama kawan-kawan yang tak jauh berbeda, mungkin hanya satu-dua yang berubah. Itu wajar.

Ia suka membaca. Dan dari bacaan itu, kadangkala ia tulis di buku hariannya. Kata-kata menarik, unik, hingga terkesan di hati. Apapun itu. Tak sekalipun ia terbesit, apa yang akan terjadi sekian waktu ke depan. Lagipula, siapa yang sanggup menyingkap rahasia?

Sekali lagi. Kejadian yang sama, dengan keadaan yang berbeda. Buku kecil miliknya, hasil tulisan yang seringkali ia kutip tersingkap di antara teman-temannya. Buku itu mengalir, dari satu tangan ke tangan lain, bahkan mungkin masa remaja, buku itu sampai ke kelas sebelah, hingga jajaran dewan guru. Ia terkejut.

Tapi, sekali lagi ia hanya terpaku, terdiam. ia menghela nafas panjang, kala ia terpanggil di kantor guru. Ia tahu, buku itu bermula kisah ini. Biarlah.. ia berjalan ditemani kawan bangkunya. Sesekali kawan bangkunya hanya mengelus bahunya, berujar tak apa..

Tentu tak apa. Itu hanya buku biasa. Olahan kata yang ia ambil pun, bukanlah dari buku yang tak mendidik. Bahkan dari cerita yang menarik, ia berfikir, bisa jadi gurunya pun menyukai tulisan itu. Dan derit pintu kantor itu terdengar nyaring. Ia tetap tenang. Bahkan ia sedang bergumam, buku apa lagi yang akan ia baca nanti.

Singkat cerita. Buku yang berisi kutipan kata dan kalimat menarik itu dianggap gurunya adalah tulisan tangan ia sendiri. Tak lebih dari itu. Sanjungan, pujian semerbak seantaro ruangan itu. Gadis itu dianggap penulis kecil. Bahkan, wali kelasnya memberi hadiah sebuah buku. Buku yang masih tersimpan hingga kini. Ia terkejut dalam diam. Tak dinyana, apa yang ia lihat saat itu jua. Sekejap waktu, ia menjadi anggota klub jurnalis sekolahnya tanpa pinta banyak syarat.

Ia tersenyum. Ia teringat nasehat orangtuanya. Yang tak jauh berbeda dari sebuah lirik lagu yang amat ia suka. Ketika jiwa itu pergi, ia akan selalu hinggap di karya terbaik kita, tetapi jangan bergantung kepada peruntungan. Cukup berilah hati. Biarkan hati terus bicara. Karena pasti, suatu saat akan lahir Mahakarya-mu. Ia paham. Perjalanan ini menggemaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s