Cinta yang Menemani

Sekian lama tak berjumpa dengan portal ini. Akses dengan jutaan bahkan milyaran pengguna yang tak kalah ramai dengan portal-portal daring menarik. Selain menyediakan ragam fitur, disini, tentu pemilik portal bebas mengurai apa yang tersimpan dalam benak. Termasuk deretan jari-jemari siang ini.

Begitu banyak hal yang terurai hingga detik ini. Sayang, rindu, gelisah, kesal, lelah, lucu menggelitik, hingga cinta sekalipun. Sayang untuk mereka yang selalu sedia mendengar celoteh, entah itu baik atau buruk, merindu untuk satu-dua hati yang sekian tak bersua, gelisah dengan segala urusan dunia, kodrat manusia, lelah dengan tuntutan, kewajiban, saling berlari-mengejar satu sama lain, seakan oksigen yang silih berganti, lucu menggelitik menertawakan diri sendiri yang terkadang melakukan hal konyol sekalipun, hingga cinta. Hal yang jarang sekali pemilik jemari ini membahas.

Mungkin, bukan cinta antar sesama insan. Pemilik kata ini tak jarang jatuh cinta. Cinta akan segala hal berbau cinta. Apapun itu. Cinta sebatas fisik, hanya berhenti di mata. Namun, entah kesekian kalinya, pemilik jemari ini jatuh hati. Jatuh kepada sang pemilik hati. Mengagumi hati. Tak sebatas fisik. Konyol memang, apakah kalian pernah mencintai angin?

Dan aku di dalamnya. Aku menyukai angin, itu mengapa tiap pagi kusempatkan mengayuh sepeda merah tuaku. Aku mencintai air, itu mengapa seseringkali aku menyapu diri ini dengannya. Aku mencintai bumi, mungkin itu alasan mengapa aku lebih sering terlihat berjalan tanpa sepeda. Aku mencintai buku, alasan akan kenapa aku membaca. Bahkan aku mencintai kata, baginya ia teman terbaikku untuk menggapai kalian, terutama kamu.

Cinta itu konyol, buta, bisu. Dan aku terjerembab di dalamnya. Betapa indah, jika hidup ini dipenuhi cinta, meski ia bukan rasa tertinggi untuk nutrisi hati. Tapi, tak ada manusia yang hidup tanpa cinta. Sehebat apapun pencuri dan penjahat, mereka melakukannya lantaran mereka mencinta. Mencintai diri mereka sendiri, hingga melakukan segala hal nekat walau membahayakan diri. Bukankah begitu?

Tak ada satu molekul pun di dunia ini tanpa cinta. Karena cintalah yang menemani. Sendiri atau bersama. Tak ada cinta yang dilarang, asal ego mampu untuk dilekang.

Lantas, jika aku mencintaimu, apakah waktu mengizinkannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s