Drama Komedi Negara

Mahasiswa takut Dosen, Dosen takut Dekan, Dekan takut Rektor, Rektor takut Mentri, Menteri takut Presiden, Presiden takut siapa? Mahasiswa…

adalah butiran kata hasil sebuah peristiwa. Peristiwa yang menjadikan Indonesia menjadi Indonesia. Baku hantam terbit di segala kalangan, caci maki diobral bak sandang pangan di pasaran, tindak-tanduk bebas tak beraturan, spanduk, banner, MMT gadungan terpajang di segala benak. Tidak hanya sekali dalam satu waktu, menjadi sarapan hingga kebutuhan hidup sebagai manusia berbangsa dan bernegara. Bukan sebuah kesalahan kala mengesampingkan hak suara untuk unjuk rasa, namun, bukan sebuah kebenaran pula kala suara yang kita tunjukkan sekedar menjadi bualan semata.

Aksi Mahasiswa. Bukan yang pertama terjadi di negara ini. Bukan pula yang kedua, atau yang ketiga. Aksi itu tak perlu dicerminkan dalam unjuk rasa secara nyata. Apakah apresiasi seni dan ilmu tidak cukup dengan mencetak belasan hingga ribuan sarjana? Meskipun tidak sedikit pula sarjana yang hanya sarjana, tak berkualitas hingga sama sekali tak memiliki kaliber, tidak sedikit, bahkan banyak.

Layak drama komedi. Drama komedi negara. Entah siapa dalang, siapa lakon, siapa musuh, siapa kawan, hingga lawan. Aksi ini bisa terbilang bernilai positif, namun apakah sang lawan menganggap ini senjata mengerikan bagi mereka? Bisa jadi, kita sudah terjebak dalam skenario licik yang entah siapakah copywriter-nya. Kalaupun ini menjadi senjata mengerikan bagi mereka, betapa piciknya rencana tersembunyi usai datangnya hari lalu. Layaknya administrasi yang tertata dan terjaga secara rapi dan tuntas.

Bagaimana kelanjutan drama ini?

Isu perpindahan ibukota, Papua, asap Jambi dan sekitarnya, BPJS dengan segala tuntutannya, prediksi kenaikan BBM, karhutla entah tak pernah menua.

Penulis hanyalah seorang mahasiswi. Mahasiswi yang tengah beradu nasib dengan skripsi. Dengan kesibukan mengabdi kepada jajaran murid. Rencana dan rencana sektoral tertentu. Dinamika kegiatan kampus, akademik atau non-akademik, hingga satu hal yang terkadang dilupakan lantaran materi, Mu’amalah dengan_NYA.

Bukan sebuah cerita hati yang hendak dilantunkan. Namun, sebagai mahasiswi biasa saja memiliki jutaan kegiatan yang tak henti-hentinya. Lantas, sebagai seorang aktivis, mahasiswa, dan apapun profesi dunia ini. Saling mengingatkan saja, Siapakah yang harus kita utamakan?

Itulah mengapa kita memiliki dua mata, dua telinga, namun hanya satu hati dan satu otak saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s