Fase Pertamaku

Aku Tahu.

Dan aku adalah yang pertama untuk kala itu. Usai terbagi-bagi beberapa sector yang akan kami tempati nanti. Bersama satu teman sejawat, yang aku sendiri tak begitu mengenalnya, mengingat kala dulu, bukanlah aku yang hidup bersama dirinya.

Memulai kehidupan ini, aku terdiam seribu bahasa, tak banyak kata kuuntai dalam kehendak manusia ini, namun tak sedikit pula aku bergerak kesana-kemari, hingga tak sukar kakak-kakak tingkat mengenalku dengan segala rutinitasku.

Kini, kujalani kehidupan dengan dua status yang tertandang di benakku, menjadi seorang guru, dan menjadi mahasiswi. Haha, jikalau aku ingin memilih, ingin hati ini memilih duduk di bangku perkuliahan bersama jajaran tugas, dan paper, makalah, presentasi, dan slide power point yang selalu menghiasi display laptop senior kamar kami.

Belum genap usia 18 tahun, sudah terpanggil diri kecil dan hitam ini seorang guru. Tampak aneh di pandangan mata manusia. Namun, itu hal biasa bagi kehidupan kami tersendiri. Dengan pakaian seadanya, sandal trepes kata orang menyebutnya, riasan wajah dengan bedak tipis tanpa pemerah bibir atau bahkan kedua belah pipi, kujalani kehidupan malam dengan anak-anak yang tak terpaut jauh usianya denganku.

Aku kecil, hitam, pendek pula, dengan pakaian seadanya, ilmu sekedarnya, humor apa adanya, dan cerita tak menghibur apapun itu. Mengetahui hal kecil yang tampak begitu biasa di kedua mataku, adalah sebuah keajaiban yang perlu aku syukuri dalam kehidupan, memahami sehelai artikel Koran yang menjadi langganan mingguan, sepotong hingga sebaris kalimat ilmiah, menuntaskan setumpuk kerjaan sector dengan jajaran keuangan yang berbaris tak beraturan, mengingat diamanahkan kepadaku sector keuangan yang tak pernah luput untuk selalu rajin menabung tiap malam.

Tahun ini banyak perubahan, banyak kejadian, banyak kabar dan berita terbentangkan, dan menjadi sarapan sehari-hari di masa perkuliahan. Terbitlah rasa ingin tahu dari diri ini, terpancarkan haus akan ilmu ini, terbilanglah segala harapan dan asa dari mimpi kecil ini. Pengetahuan yang sedikit ini, tentu menampakkan segala akibat besar.

Mulailah aku bertinggi hati, merasa mampu memahaminya, mampu menelaahnya, mengerti alur jalan ceritanya, hingga prasangka-prasangka tak terduga darinya.

Aku mulai sombong. Merasa tahu segala. Merasa bisa segala hal. Mengkritik ragam hal yang tak kumengerti mengapa ini terjadi. Mengkomentari segala kegiatan yang belum sama sekali kurasakan.

Fase pertamaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s