Kata Terakhir

 

Aku berdiri termatung di sana. Bertandang senyum penuh kegetiran. Terhempaskan angin lembut pembawa berita duka. Tergolek di sana ratusan bahkan jutaan benda mati. Tak lagi berbentuk. Tak lagi berfungsi. Terbelah. Terpecah. Mereka diam, namun lagaknya mereka berbicara. Berpesan, undangan perhatian seluruh manusia. Berujar, meminta kami yang masih mampu berkata nan bergerak untuk berhati sesiap hati. Tak ada yang tahu kapan mati itu akan datang. Tak ada yang tahu apa rahasia itu semua.

Aku terdiam. Mengusap perlahan. Pecahan kaca, reruntuhan bangunan, pakaian koyak, tiang patah, dan apapun itu. Aku mendesah. Bulir mataku jatuh. Tak ada yang tahu.

***

“Dondong opo salak, duku cilik-cilik. Ngandong opo mbecak, mlaku timik-timik…”

Gadis kecil itu menguap lebar. “Ibu, aku sudah mengantuk..”, ujarnya pelan mengusap kedua bola matanya yang mulai berair.

Didapatinya ibunya tersenyum. Lantas mengusap rambutnya, mengecup keningnya, berpesan ‘Selamat tidur, sayang. Besok akan jadi hari yang indah..’

Indah tersenyum simpul dibuatnya. Tentu, malam ini akan menjadi malam indah. Karena esok mereka sekeluarga akan pergi berlibur, rezeki akhir tahun. Kata Ayah beberapa jam lalu, saat mengabari kabar bahagia ini. Untuk kali pertama, usai kepindahan tugas ayah dari kota ke kota. Menyebalkan memang. Namun, selama itu Ayah juga bekerja untuknya, bukan?

Indah memukul kepalanya. Berusaha menghilang prasangka itu. Lantas, meminta mata untuksegera tertutup. Besok hari indah. Mengapa aku kecewakan dengan prasangkaku?

***

“Kau gadisku yang manis. Cobalah lihat aku disini. Disini ada aku yang…”

Masya Allah, so siapa lagi yang menyanyi ini, bagus skali depe suara le...”[1].

Pemuda canggung itu tersentak kaget dengan gitar kecil usangnya. Tak menyangka ada seseorang memperhatikannya. Lelaki tua, seorang nelayan. Pemuda itu tergagap, hampir-hampir gitar kesayangannya jatuh.

Halah, bapak. Besok dia hendak menyanyikannya depan si Kembang..”, sahut suara lain di balik lelaki lain, seorang pemuda tanggung sepertinya. Bujang namanya.

Kembang, siapa itu?”

Gadis pessisir pantai, cinta pandangan pertama. Bapak…”

Lelaki tua itu termanggut, ber-oh panjang lantas menyelidik pemuda pembawa gitar itu penuh makna. Sembari tersenyum terkikih, lantas memukul punggung pemuda itu. Seraya berkata,“Semangat anak muda. Memang masa muda masa terindah. Perjuangkanlah…”

Pemuda itu kesakitan mendapat ‘semangat’ dari lelaki tua itu. Pemuda itu mengangguk. Jika diamati, kedua pipinya bersemu merah. Ia menutupinya sembari mengangguk-angguk.

Lelaki tua itu mengacungkan jempol, lantas meninggalkan pemuda itu tercengang. Kesadarannya kembali usai tepukan tangan teman karibnya, Bujang.

Hei! Jangan melamun. Lanjutkan!”

Serasa terbakar semangat. Semalam suntuk, pemuda itu memetik gitar kesayangannya. Mengeras-kendurkan suaranya tingkat rendah. Mematut tempat terindah untuk menyanyikannya.

Karena esok, ketika malam tiba, bintang gemintang berkawan rembulan. Di tempat itu, pesisir pantai rantauannya. Ia akan menorehkan kisah barunya nanti. Tak boleh ia sia-siakan.

***

Detik itu, tepat jarum jam menunjukkan waktu pulang para karyawan kantor di seluruh penjuru kota. Menyisakan kepenatan yang kian berganti keceriaan menyambut libur akhir pekan. Sahut-menyahut mengisi selusur ruangan,

Alhamdulillah, padamelan minggu ieu parantos rengse”[2]

“Hayu, urang jalan-jalan”, “Hore, Pere!!!”[3]

Urusan kantor minggu ini sudah selesai. Pantas mereka mendapat libur. Dan akhir pekan jawabannya. Terutama, menjelang libur panjang. Libur Nataru (Natal Tahun Baru). Tak akan disangka banyak rezeki dan keajaiban terjadi. Tak hanya uang pesangon mulai mencair. Namun, banyak pula proses cuci gudang harga sangat terjangkau. Tiket bioskop, kereta, pesawat, kapal atau apapun itu tak heran tandas. Karena setiap manusia pasti ingin kembali kepada mereka yang dicinta. Di ujung dunia sekalipun. Sembari menghabiskan waktu yang terbilang hanya sepersepuluh dari kesibukan dunia mengais rezeki. Beberapa tempat wisata mulai berjajar mempromosikan keunggulan dan produk gratis mereka. Tunggu apalagi?

Gedung-gedung bertingkat itu tengah merayakan libur panjang ini. Satu sama lain mengikrar janji, menyusun rencana, membagi tugas. Libur panjang tiba.

Ke pantai, kumaha?”[4]

Saling bersitatap. Lantas mengangguk setuju. Ketok palu. Ke pantai!

***

“Kakak, mauka minta doata…”[5]

“Iye, kenapaki de’?”[6]

“Mauka pergi ke pantai, besok. Ada penelitian sama teman-teman kampusku disana”[7]

“Iye, slaluji ku doakanki de’, semoga lancar acarata”[8]

“Amin, terima kasih, kakak..”

“Bilang juga sama mama sama ayah”

Gadis berkacamata bundar itu mengangguk cepat. Anggukan yang sudah pasti kakak lelakinya tak mampu melihatnya. Percakapan itu terbilang cukup lama. Maklum, sekian tahun tak bersua. Itulah mengapa kerinduan cepat bertunas ria untuk mereka para perantau.

Kiya, gadis Makassar merantau ke Jawa. Menuntut ilmu, terbilang ingin jadi florist seperti kakak sepupunya. Lantas, ia tuntut jurusan Biologi. Esok, detik itu pula. Ia sudah bertandang diri di pesisir pantai kota provinsi. Bersama teman kampus dan beberapa pembimbing. Tugas penelitian. Sekian lama ia tak bersua dengan pantai. Senang bukan kepalang ia sedari pagi menjelang. Sebelum hendak berkemas, ia minta do’a sanak saudara. Dikata ia hendak berjumpa saudara lama dalam laut, meski bukan pantai di tanah lahirnya ia jumpa. Namun, tak akan jauh berbeda dengan pantai ini besok.

Senyumnya begitu lebar menandai kalender kampus tergantung di meja belajarnya. Esok ia akan pergi. Semoga semua lancar, Ya Rabb…

***

Malam itu, belasan atau bahkan jutaan do’a terpelintir, berpilin, terbang menembus jagad raya. Berharap, meminta, merajuk, semua tersampaikan. Hari yang dinanti bersama mereka yang dicinta, dikasihi, disayangi. Waktu yang sekian lama tertambat dasar hati. Langit bergemuruh, lagaknya tak mampu menampung trilyunan doa. Angin berhembus pelan. Membangunkan sejenak sebagian manusia. Sekedar bercakap dengan Sang Pencipta.

Semoga besok menjadi hari yang indah, bisiknya..

***

Namun, siapa tahu akan rencana-Nya?

Malam itu. Tiada angin, tiada getaran, tiada kewaspadaan, tiada peringatan. Tiada yang mengerti!

Alam menunjukkan giginya. Ia terbang meninggi, menghempas apa saja di depannya. Mengguyur seluruh penghuni bibir pesisir. Ia menggulung, lantas serentak menyapu habis siapa saja yang menetap disana. Rumah, hotel, penginapan, mobil, tenda, perahu, kapal, sampan tersapu dalam hitungan sepersekian detik. Tak ada yang tahu bagaimana ia bisa datang. Tak ada yang sempat memikirkannya. Semua berusaha mencari tempat perlindungan. Berlari, menaiki tangga, mencari tempat tertinnggi. Bapak meneriaki istri dan anaknya, istri memanggil anak-anaknya, lelaki muda bersikeras mencari pasangan hidupnya, kawan beradu dengan kawan. Semua berteriak. Melolong mencari tempat perlindungan, berpasang-pasang mata nanar menghadapi amukan laut. Pontang-panting berlari, rumah kayu pesisir terhempas dengan mudah, lagaknya kertas terpotong gunting. Tangisan pecah menyeruak. Namun, laut tak peduli. Ia masih mengamuk, menunjukkan kehebatan Pencipta-Nya. Menghabiskan apa saja di depannya. Menelan mimpi-mimpi manusia yang baru saja terurai.

Dan langit menjadi saksi bisu akannya.

Tawa menghilang. Kesedihan menjelang.

Begitu hebat kuasa-Nya akan laut. Sekejap mata memandang, yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan, reruntuhan rumah, potongan-potongan besi pintu mobil, pakaian koyak, sepatu, kertas, makanan, teronggok bisu menjadi sampah. Pasir pesisir pantai kini becek tergenang air laut yang sedetik lalu mengamukkan diri. Lenyap keceriaan libur akhir tahun lalu. Berganti kesedihan, penyesalan. Beberapa lelaki tim penolong siap siaga menjalar ke tiap bagian. Bermodalkan keteguhan, mencari manusia yang bersisa jasad. Tangisan dan harapan untuk segera ditemukannya sosok yang dicinta. Hanya mampu dijawab tim itu dengan anggukan penuh pengharapan. Lantas, mengkomando anggotanya. Bersinergi memeriksa tiap jengkal. Berjuang atas perikemanusiaan.

Senyap.

Dan aku masih terdiam disana. Mematung. Menggerayapi seluruh penjuru kota ini. Ada empat daerah termasuk kota ini. Belum kuat hati menerima semua ini. Bukan beta pelaku kejadian semalam. Bulir mata perlahan membasahi kedua bola mata. Tanpa pamit menyelinap keluar. Basah kedua pipi dibuatnya. Aku terduduk dengan keras. Tak kurasa sakit kedua lutut menghantam tanah keras berpadu reruntuhan kayu dan batu. Tak ada yang lebih sakit ketimbang sebuah rasa. Rasa kehilangan.

Aku tergugu. Berkata tanpa kata. Berteriak tanpa suara. Kedua mataku nanar. Menyangsikan pemandangan pedih sekian lama. Aku terpekur. Selembar foto seorang gadis berkacamata bundar itu terlepas dari genggaman. Ia sudah pergi.

Seseorang menepuk lelaki yang terpekur itu. Seraya berujar, Sabarlah…tunggu disana. Kami tengah berjuang.

Dilihatnya sebuah tenda pengunsian. Ragam manusia bercampur. Kesedihan terpancar begitu hebat. Bukan dia saja memang. Seharusnya, dia lebih sedikit sabar.

Ia memejamkan kedua matanya. Bertanya keras dalam hati.

Apakah semalam adalah kata terakhir darinya?

Ia berdo’a.

[1] “Masya Allah, siapa lagi menyanyi ini, merdu sekali suaranya…”

[2] “Alhamdulillah, urusan minggu ini selesai juga…”

[3] “Hore, ayo jalan-jalan”, “Hore, libur!”

[4]“ Ke pantai, gimana?”

[5] “Kakak, saya mau minta doa..”

[6] “Iya, kenapa?”

[7] Besok, saya pergi ke pantai. Ada penelitian bersama teman-teman kampusku..”

[8] “Iya, saya mendo’akanmu selalu. Semoga lancar acaranya..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s