Kembali Rutinitas

Fajar menyingsing di balik hamparan sawah. Teriknya menyisip di antara celah dedaunan. Embun perlahan berkecimpung memandikan tidak jengkal pepohonan.

Ada euforia baru di pagi ini. Sesuatu yang berbeda terjadi. Dan memang sudah menjadi rutinitas tahunan tempat ini.

Tempat ?

Bukan tempat, kukata dia rumah. Rumahku, entah hingga kapan bisa kusebut ini rumahku. Namun, detik menyambut menit. Menit menyapa jam. Jam menyulam hari. Semakin lama, aku bertemu wajah-wajah mungil nan ceria di balik kenyataan haru ini.

Baru tadi pagi, kukayuh sepeda. Satu doa kudapatkan dari anak stafku, dari Jakarta yang tempo lalu dia harus kena 5 jahitan di dahinya tertumpuk mika gulung ketika berkumpul.

“Assalamualaikum, ustadzah…”.

Ceria bukan main, senyum di wajahnya terurai lebar. Tak terlihat ada 5 jahitan tertoreh di sana. Membuatku melupakan sejenak akan mimpi buruk semalam.

Lihat, pagi-pagi kudapat doa. Bagaimana siang nanti ?

Mengapa pula keraguan ini begitu mencekam. Bukan saatnya kesedihan membuatku tenggelam. Terlena, dilema, meminta pulang.

Kembali Rutinitas.

Dua kata penguatku sejenak.

Semoga akhir semester ini. Menjadi lebih baik. Tak hanya untukku. Untuknya. Terutama untuk mereka.

Anak-anak mungil nan ceria.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s