Anak Bangsa

Hari ini, tepat mentari membakar ubun-ubun. Di saat diri disibukkan dunia dan seisinya. Peluh keringat bercucuran membasahi alam manusia. Sebagian manusia mengadu nasib apa adanya, demi sesuap nasi menahan lilitan perut, atau untuk buah hati tercinta. Atau untuk siapapun itu.

Diri ini tengah bercengkrama dengan sendok kayu, tengah mengaduk adonan puding buah naga yang kelak dan semoga terjual esok nanti.

Tiba-tiba datang seorang anak perempuan gendut, berkaos pink bercelana pendek sepaha, tanpa sandal, tanpa nama, dan tanpa salam. Ia masuk ke rumah kecilku ini.

Siapa anak ini ?

Batinku dalam hati.

Namun, menilik bukan penghuni rumah asli, terutama sekian lama aku tak pulang, tertinggal macam berita disini. Aku terdiam

Mungkin, dia memanggil sering main kesini….gumam dalam hati bersibuk ria kembali dengan sendok kayu itu.

Tak dinyana, pemilik rumah ini. Wanita tua yang tengah mengurusi wortel tak lain ibuku sendiri, meminta gadis kecil itu untuk pulang.

Bukan hal biasa. Ibu yang selalu ramah dengan semua anak kecil, mengingat banyaknya keturunan yang dia punya. Bahkan tak jarang ibu memberikan hadiah kecil untuk anak-anak sekeliling rumah. Terutama, anak yang sering ke masjid.

Tapi, siang itu. Ibu dengan mengerutkan kedua alisnya, memintaku untuk memulangkannya.

Singkat kata, dia anak kurang perhatian dari orang tuanya. Apalagi, ketika kutanya, anak siapa. Ibu malah menjawab, “anak Mbah….’,

Kenapa ‘Mbah’ ?

Kenapa tak terbesit nama orang tua anak ini, bapaknya atau ibunya kah ?

Dibilang, anak ini kurang kasih sayang, kurang perhatian. Hingga dirinya pun tak mengenakan sandal, lantaran tak mengerti apa guna ia ber-sandal. Sedangkan, usianya terpaut sudah seharusnya mengerti.

Namun, jika anak yang kurang kasih sayang apakah harus diusir ?

Kembali aku bertanya,

Ibu hanya menyahut,

Dia sedikit ‘……’

Aku tak ingin membeberkannya dalam tulisan ini. Namun, rasa belas kasih tersirat di wajah gembulnya. Tampak fisiknya, ia hanya diberi asupan fisik, tanpa batin. Sedangkan ia adalah satu di antara ribuan anak bangsa. Dia tinggal di satu di antara ribuan kota yang telah berkembang di negeri ribuan pulau ini.

Dia tak ber-sandal, namun menaiki kasur. Tak dikenal, namun masuk rumah tanpa salam. Dan segala hal yang sejenak membuat hati dongkol di siang hari.

Namun, mengingat tidak hanya dia di bumi ini.

Dia hanya membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan pendidikan lebih.

#22november2018,solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s