Muhadatsah Shobahiyah

“Qolidna Jama’atan!!! Badzaltu Juhdiii…! Wahid…Itsnani….Tsala..sa!!”

“Badzaltu Juhdiii…”

Satu-dua patah kata berbahasa fasih atau terbata-bata tersingkap pagi itu. Berbekal persiapan sepanjang malam, seusai melapor ke bagian Bahasa Pusat (CLI) dan berujung ke laporan Bagian Bahasa Pusat dari Ustadzah (LAC).

Dua kosakata tersampaikan. Dengan ragam penyampaian baik itu menyebut persamaan warna baju, jam tangan, berkacamat, per kelas, kamar atau apapun itu. Itulah ‘Fannu-t-Tadris’, ada yang menggebu-gebu lantaran terbakar sudah semangatnya, ada yang cukup fasih dalam berlogat bahasa arab, atau ada yang sedikit (tampak) grogi dalam penyampain, meskipun di depannya tidak lain tidak bukan adik kelasnya sendiri. Namun, siapa tak kaget dengan keajaiban sistem disiplin ini?

Dengan sentuhan kalimat lembut. Siswi kelas 5 disulap menjadi apapun itu. Di pagi hari ada kalanya mereka menjadi penggerak bahasa, berlanjut menjadi santriwati biasa yang tertuntut ragam hafalan, namun tak lupa tugas piket kontrol rayon, lapor-melapor ke bagian pusat OPPM, atau kepada pembimbing sektor. Berlanjut menjadi seorang kakak yang harus mampu membina adik-adiknya, dan menjadi sosok sahabat yag selalu saling memahami. Meski hakikatnya mereka adalah satu dari trilyunan remaja yang masih ingin merasakan kebahagian sepanjang hidupnya. Bermain, bercand, bersendau-gurau, berkumpul, bercengkrama panjang kali lebar.

Karena itu, tak bisa dipunngkiri, ada satu-dua kelas yang amat sangat menyukai dengan ‘Mengobrol’. Karena memang itulah fitrah mereka. Tanpa kita sadari, dan tanpa kita minta psikologi yang akan menjelaskannya.

Seusai bel berbunyi lagi, pertanda usai sudah kegiatan pagi itu dengan papan tulis berbentuk persegi panjang, berbekal kapur putih (layaknya ustadzah yang mengajar di kelas) mereka menulis, menyalin apa yang ada di atas papan tulis di atas buku mereka. Lantas, tulisan itu menjadi peserta ‘Daftar kegiatan harian, mingguan atau bahkan bulanan’ yaitu kewajiban ‘Menghafal’. Jikalau tak diamalkan, maka ‘Mahkamah’ Hari Jum’at siap menanti.

Kegiatan ini hanya sebuah kegiatan kecil Namun, darinya lahir orang besar. Para ‘Mulqiyah’ kita pun bukan manusia besar! Hanyalah para gadis remaja yang bahkan untuk urusan cinta saja bernilai NOL besar. Namun, kata ‘Hanya’ ini tidak sembarang manusia. Merekalah penuntut ilmu dan pendidikan.

Mereka hanyalah manusia kecil yang datang dari negeri nun jauh disana. Berbekal hati, pikiran, dan jiwa untuk menapaki dunia baru. Mereka hanyalah sebulir bunga dandelion yang indahnya tak terkirakan, namun suatu saat nanti ia akan mengikuti arus kehidupan.

“Na’am, As- Sanah As- Tsalisah! Qolidna Jama’atan!!!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s