Pagi Hari

images (2)“Tin..tin..tin..”

Bunyi klakson sepeda motor honda berderu-deru menyisiri jalanan kampung damai pagi itu. Membelah hawa dingin menusuk tulang tak kasat mata. Demi menunaikan kewajiban ilahi semata. Beranjak dari satu rayon ke rayon lain. Layaknya jam weker di pagi hari dalam skala besar. Sahutan pukulan tongkat, sapu, kayu, apapun itu dihantamkan ke atas kotak sepatu, usaha para penjaga malam (haris lail) untuk mereka yang masih terbuai dalam mimpi. Satu…dua…terbangun pelan, atau bahkan ada yang tengah menyaksikannya? membangunkan satu demi satu, mengajak bangkit dan mengambil air wudlu, jikalau mau menikmati air dingin di siang hari.

Rasa kantuk masih merajai diri, mengingat padatnya diri di hari lalu. Menguasai kedua kelopak mata, meminta terbuka. Namun, hati enggan mengiyakannya.

Ingatkah kalian perasaan itu?

Jarum jam masih berdetak, bergerak dari satu angka ke angka lain. Tubuh-tubuh lelah terhuyung, sembari menutupi diri dengan kain balutan putih untuk sembahyang. Dering bel sepeda biru mulai bersenandung di setiap sudut, layaknya melodi indah di senja hari. Meski, realita mengartikan melodi itu tak seindah yang diminta. Justru dengan senandungnya, gerak hati memaksa kedua kaki berjalan secepat mungkin, bergerak sedemikian rupa, derap kaki beriringan dengannya. Sekilas hanya untuk menuju masjid tercinta, Masjid Khodijah.

Menunaikan sebuah kewajiban yang seharusnya mampu menjadi santapan sehari-hari, tanpa diminta tanpa diundang, ia akan terlaksana sendiri. Namun, untuk jiwa remaja yang masih belum mengerti siapa & apa yang terbaik, menganggap ini satu dari hala yang paling memberatkan dalam hidup. Hewan malam menjadi sakssi, guratan ungu oranye melukiskan siluet senja kala itu. Sontak sorai, bangunan berkubah 6 polos itu dikerumuni balutan-balutan putih yang datang dari segala penjuru. Tak pandang usia, tinggi, berat, asal, marga ras, suku, atau apapun itu.

Semua berkumpul layaknya para semut mendatangi perbekalan mereka di musim dingin. Desah nafas mereka yang telah berlari melebih pelari tingkat dunia. Kantuk mereka yang menikmati udara malam, dan tidur beralaskan bintang-gemintang. Mereka tidak tidur dalam satu malam, tak tangung-tanggung, hitungan menit mereka sudah harus menapapki bangunan ini.

Ingatkah kalian perasaan ini?

Belum lagi, ketika waktu menghakimi kalian untuk berdiri di atas paving abu-abu, terpisahkan daripara sahabat yang telah menikmati dinginnya lantai masjid. Berdiri, terpisah, membentuk barisan berjajar menunduk berhadapan dengan ‘Si Mukena Merah’, yang sudah terkenal dengan ‘qismul amni’.

Ingatkah kalian perasaan itu?

Ketika kedua kaki telah menjejaki zona aman, ternyata tak dinyana, batal sudah wudhu yang dimiliki. Sontak, harus menyibukkan diri meminta perizinan, dan cercaan pertanyaan dilontarkan, lantas kembali ke masjid dengan keadaan masbuk?

Ingatkah kalian perasaan itu?

Aku mengingatnya, bahkan snagat mengingatnya. Meski sudah belasan tahun silam, rekaman itu hanya tersimpan dalam sanubari diri. Namun, kaset itu masih terus berputar-putar, menemani tegaknya berdiri sang Rumah Allah.

Meski, bukan diri ini pelaku dalam cerita. Namun, tiada salah menjadi orang ketiga untuk menjadi pelaku di balik semua ini.

Ingatkah kalian perasaan itu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s